Membangun Peran Institusi Pendidikan dalam Perdamaian dan Toleransi

Indonesia merupakan bangsa yang memiliki kemajemukan dari segi suku, bahasa, budaya dan agama.Indonesia memiliki lebih dari 300 suku, 700 bahasa, dan enam agama yang diakui oleh konstitusi termasuk Kong Hu Cu (Parker, 2009).Dengan kemajemukan tersebut, banyak orang yang tidak siap untuk berbeda, terutama dalam aspek teologi. Mereka menolak pluralisme dan menganggap orang lain “palsu, menyesatkan, dan kafir,” karena berbeda pemahaman keagamaan atau teologis (Barsihannor, 2016).

Dengan keberagaman tersebut, Indonesia tengah menitikberatkan dalam pembinaan kerukunan dan toleransi antar umat beragama. Toleransi yang dibina bukanlah untuk menyamakan perbedaan yang ada, melainkan menyadarkan adanya perbedaan dalam kehidupan. Bila perbedaan ini dapat dimengerti, semua orang dapat berinteraksi dengan saling menghargai dan mengormati satu sama lain.

Indonesia bukanlah merupakan Negara Islam, meskipun merupakan bangsa dengan populasi muslim terbesar di dunia. Indonesia juga bukan merupakan negara sekuler; kepercayaan pada satu Tuhan adalah prinsip utama dari Pancasila, yang merupakan ideologi Negara (Parker, 2009).Dalam perihal keberagaman agama, dengan mengacu pada QS.Hud (11): 118 dan QS. Yunus (10):99, dijelaskan bahwa manusia tidak dapat begitu meyakini siapa yang paling benar/terbaik dalam pemikiran dan pemahaman agamanya. Hal ini kita serahkan kepada Allah yang akan menjelaskan perihal krusial yang selalu diperdebatkan dalam kehidupan ini di akhirat nanti.

Oleh karena itu, menurut Zainal Arifin Djamaris, kita tidak boleh marah dengan orang lain yang yang memiliki pemahaman keagamaan yang berbeda dari yang kita pahami (Djamaris, 1996). Selain itu, Konsil Vatikan II (Katolik) juga telah menghasilkan keputusan antara lain, tentang kebebasan beragama dan sikap gereja terhadap agama-agama non Kristen. Oleh karena itu, kebebasan beragama haruslah dibarengi dengan sikap kerukunan dan toleransi antar umat beragama. Namun, pada kenyataannya hal tersebut cukup sulit untuk diimplementasikan.

The Role of Institution

Sebuah solusi dalam mengantisipasi dampak yang sedang dan mungkin akan terjadi dari keberagaman agama ini adalah dengan mengupayakan cara-cara seperti melalui reaktualisasi agama untuk menghilangkan dualisme nilai melalui para tokoh agama dan pengajar agama, hubungan antar manusia diperkuat tanpa memandang agamanya, dan yang tak kalah pentingnya adalah dengan mengaktualisasikan pembinaan kerukunan dan toleransi di lingkungan sekolah dan khususnya perguruan tinggi yang merupakan poros pengembangan ilmu pengetahuan.

Sebuah universitas di Indonesia yaitu Paramadhina institute telah mengembangkan dan menerapkan pembinaan kerukunan dan toleransi antar umat beragama dengan program pokok kegiatan berkisar pada peningkatan dan penyebaran paham keagamaan islam yang luas, mendalam, dan bersemangat keterbukaan dengan titik berat kepada: pertama, pemahaman sumber-sumber ajaran Islam, khususnya masa lahir dan pembentukannya, dalam kaitannya dengan lingkungan sosial, politik, ekonomi, budaya, dll. Kedua, penyadaran tentang sejarah pemikiran islam. Ketiga, pengembangan sikap-sikap penuh toleransi dan apresiatif terhadap kelompok agama lain. Adapaun kegiatan dan amal usaha yang telah dilaksanakan yaitu dengan pembentukan Klub Kajian Agama (KKA), Kursus Studi Islam, LAZIS (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah), dan High Boarding School Madania (Sabri, 2016).

Pembelajaran studi agama-agama di perguruan tinggi menuntut kematangan sikap, emosi dan intelektual. Oleh karena itu kesiapan dari individu dalam penyediaan bahan pelajaran dan metode yang digunakan serta tujuan yang dicapai harus benar-benar dirumuskan sedemikian rupa. Sosialisasi pluralisme agama dan keberagaman di perguruan tinggi dapat dilakukan dengan melalui proses pembelajaran. Metode pembelajaran toleransi antar umat beragama diantaranya seperti pendidik lebih menekankan pada nilai, sikap dan kepribadian, pendidik memberikan ceramah mengenai toleransi antar umat beragama kepada para peserta didik, pendidik dapat menjadi pendengar, pembicara, dan pemikir yang baik, peserta didik saling mengingatkan tentang ibadah kepada teman ketika lupa untuk menjalankan ibadahnya, pendidik dan peserta didik saling menghargai antar sesama sebab faktor pendorong adanya sikap toleransi antar umat beragama di lingkungan perguruan tinggi maupun sekolah yaitu adanya keberagaman agama yang dianut oleh seseorang (Susanti, 2009).

Azyumardi Azra, seorang pemikir Muslim Indonesia dewasa ini, menegaskan bahwa perbedaan antara pendidikan dan pengajaran terletak pada penekanan pendidikan terhadap pembentukan kesadaran dan kepribadian anak didik disamping transfer ilmu keahlian. Dengan proses semacam ini, suatu bangsa atau Negara dapat mewariskan nilai-nilai keagamaan, kebudayaan, pemikiran dan keahlian kepada generasi mudanya, sehingga mereka betul-betul siap menyongsong kehidupan. Dengan demikian, pendidikan mengandung arti “pembimbingan” dan “pengajaran” sekaligus; pendidikan mengandung keduanya, sedangkan pengajaran mengandung hanya yang terakhir. Maka pendidikan dapat pula diartikan sebagai proses pembimbingan manusia seutuhnya: kalbu dan akalnya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya. Pendidikan dengan totalitasnya dalam arti ini meliputi semua jenis pendidikan: “informal”, “formal”, dan “nonformal” (Kautsar, 2011).

Kegagalan sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini tampaknya terletak pada kenyataan bahwa proses yang terjadi dalam pendidikan tidak lebih dari sekedar pengajaran. Pendidikan yang berlangsung di negeri ini lebih menekankan proses transfer ilmu dan keahlian; dan proses ini pun jauh dari pencapaian yang memadai. Pendidikan di Indonesia selama ini lebih mementingkan proses peningkatan kemampuan akal, jasmani dan keterampilan, dan kurang memperhatikan proses peningkatan kualitas kalbu, rohani dan akhlak. Akibatnya adalah bahwa kerusakan akhlak anak didik tidak dapat dihindari.Peristiwa-peristiwa kriminal dan amoral di tanah air kita meningkat, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Ketidakberdayaan sistem pendidikan agama di Indonesia, sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional kita secara keseluruhannya, tampaknya disebabkan penekanan pendidikan agama selama ini pada proses transfer ilmu agama kepada anak didik, bukan pada proses tranformasi nilai-nilai luhur keagamaan kepada anak didik untuk membimbingnya agar menjadi manusia yang berkepribadian kuat dan berakhlak mulia. Proses yang lebih banyak berlangsung dalam pendidikan agama selama ini adalah “pengajaran” agama, bukan “pendidikan” agama. Yang banyak ditemukan di sekolah-sekolah adalah “pengajar” agama, bukan “guru” agama.Apa yang disampaikan “pengajar” adalah untuk dipikirkan dan dipahami, tetapi apa yang disampaikan “guru” adalah untuk di dengar, dihayati, dan diamalkan. Apabila pendidikan agama diharapkan dapat memenuhi fungsinya, maka pendidikan agama harus mampu melakukan proses tranformasi nilai-nilai kegamaan kepada anak didik. Demikianlah, indicator seorang pendidik yang harus selalu diamalkan baik dalam tatanan sekolah menengah maupun perguruan tinggi yang sekaligus harus mampu menjadi role model bagi anak didiknya agar tugasnya sebagai pendidik dapat berhasil (Kautsar, 2011).

Menurut Bujiburrahman (2015), beberapa peran institusi/perguruan tinggi dalam membangun kerukunan antar umat beragama adalah pertama, dengan penelitian,khususnya penelitian dalam bidang keagamaan dan lebih khusus lagi berkenaan dengan hubungan antar agama. Dan juga tentu sangat banyak sekali penelitian mengenai gejala-gejala keagamaan di masyarakat, yang dilakukan perguruan tinggi seperti penelitian tentang konflik di Ambon dan Poso tentang dinamika hubungan agama dan etnis, tentang gerakan-gerakan separatis. Kedua, adalah pengabdian masyarakat dalam bentuk aksi bersama lintas agama,juga dapat dilakukan. Misalnya ketika terjadi bencana, mahasiswa lintas agama sama-sama terjun ke lapangan untuk membantu korban.

Menanggapi persoalan kerukunan antar agama, perguruan tinggi islam khususnya UIN Alauddin Makassar juga memiliki andil dalam mendukung sistem pendidikan yang harmonis dan tolerance. Sistem pendidikan yang tak membeda-bedakan mahasiswa yang beda agama yang umumnya minoritas, menggalakkan dialog lintas agama di kalangan mahasiswa juga dapat membangun keakraban dan keharmonisan antar agama. Dalam dialog lintas agama, institusi dapat memfasilitasi dengan mengundang tokoh/pemuka agama dari beberapa agama yang ada di Indonesia, dalam hal ini mahasiswa juga dapat dilibatkan dengan memberikan kesempatan sharing pengalaman atau perntanyaan-pertanyaan yang mungkin selama ini menjadi perdebatan terkait persoalan teologis/keagamaan. Selain itu, institusi pun juga dapat memformasi suatu kegiatan yang melibatkan mahasiswa lintas agama untuk saling berkecimpung dan bekerja sama, salah satu contohnya adalah dengan kegiatan pengabdian di masyarakat, dimana mahasiswa lintas agama dapat bersama-samaa memecahkan permasalah yang ada di masyarakat tersebut.

Selain itu, terkhusus penelitian tentang keagamaan/lintas agama dapat menambah wawasan tentang berbagai agama sehingga penghargaan antar agama dapat lebih tercipta. Selain itu, melalui pengabdian pada masyarakat diharapkan melakukan pelayanan masyarakat untuk ikut mempercepat proses peningkatan kesejahteraan dan kemajuan masyarakat. Melalui dharma pengabdian pada masyarakat ini, Perguruan Tinggi juga akan memperoleh feedback dari masyarakat tentang tingkat kemajuan dan relevansi ilmu yang dikembangkan Perguruan Tinggi itu.

Demikianlah kiranya peran yang dapat dimainkan perguruan tinggi dalam memelihara, membina dan membangun kerukunan umat beragama di negara ini. Sebagai negara Pancasila yang bukan negara sekuler pemerintah turut memfasilitasi pembangunan hidup di masyarakat. Namun peran pemerintah itu tidak dapat berjalan dengan baik tanpa dukungan masyarakat. Negara dan masyarakat keduanya harus saling mendukung dalam upaya memelihara dan menciptakan kerukunan umat beragama. Disinilah kiranya peran sentral perguruan tinggi sebagai lembaga yang menjembatani antara pemerintah dan masyarakat. Meskipun perguruan tinggi banyak mendapat bantuan dari pemerintah tetapi sebagai lembaga ilmiah ia memiliki kebebasan akademik yang dilindungi undang-undang (Bujiburrahman, 2015).

Sebagai lembaga pendidikan tingkat tinggi, perguruan tinggi tentu memiliki peran yang sangat signifikan bagi kemajuan dan kesejahteraan suatu bangsa, bahkan bagi seluruh umat manusia. Dalam arti luas, perguruan tinggi merupakan pusat pengembangan peradaban. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika kemajuan suatu Negara antara lain ditujukan oleh mutu pendidikannya, khususnya pendidikan diberbagai perguruan tinggi yang ada di Negara tersebut.

Potensi Indonesia dalam mengembangkan sebuah sistem pendidikan yang harmonis dan tolerance sangat bergantung pada peran institusi sebagai poros pegembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Pada bidang pendidikan dan pengajaran, jelas kiranya bahwa tugas dari sebuah institusi tidak hanya mentrasfer ilmu dan keterampilan tetapi juga berusaha agar mahasiswanya dapat menginternalisasi nilai-nilai luhur maupun akhlak.

DAFTAR PUSTAKA

  • Barsihannor. 2016. Religion and Social Conflict: An Effort to Grow up Theological Awarness. UIN Alauddin Makassar
  • Djamaris, Zainal A. 1996. Islam, Akidah, dan Syariah.
  • Kautsar, 2011, Pluralisme, konflik dan pendidikan Agama di Indonesia, Interfidei, Yogyakarta
  • Mujiburrahman. 2015. Peran Perguruan Tinggi dalam Membangun Kerukunan Umat Beragama
  • Parker, Lyn. 2009. Toward Multicultural Citizenship Through Education.
  • Sabri, Mohd. 2016. Islam, Pluralisme, dan Cita-cita Indonesia Baru: Sebuah Refleksi.
  • Susanti, 2009, Model Pembelajaran Toleransi Antar umat Beragama, Universitas Negeri Malang.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: