Implikasi Sosial Bioterorisme di Tanah Air

Sangat penting untuk menyadari bahwa serangan terorisme bukan tornado, gempa bumi ataupun kecelakaan pesawat. Sebagai masyarakat, kita harus siap untuk merespons secara efektif peristiwa berbahaya yang akan menciptakan ketakutan dan berpotensi menyebabkan banyak korban. Fenomena ini dapat diketahui dan diprediksi dalam batas tertentu yang menyebabkan goncangan lingkungan. Namun, terorisme adalah fenomena yang sangat berbeda karena terorisme meliputi “segala tindakan yang direncanakan dan melanggar hukum yang berbahaya bagi kehidupan manusia atau kesejahteraan publik yang dimaksudkan untuk mengintimidasi atau memaksa masyarakat sipil atau pemerintah.

Bentuk-bentuk terror secara umum dapat berupa penculikan, pembajakan, penembakan, dan pemboman konvensional, termasuk serangan yang melibatkan bahan kimia, biologi, senjata radiologis, atau nuklir. Ketakutan yang diciptakan oleh antisipasi serangan mungkin melumpuhkan penduduk sipil yang menyebabkan kerusakan ekonomi lebih aktual daripada serangan itu sendiri. Teroris berusaha untuk mengacaukan masyarakat yang ditargetkan dan menyebabkan ketakutan. Teroris menggunakan senjata pemusnah massal (bahan kimia, biologi, radiologis, atau nuklir) kemungkinan besar akan menciptakan apa yang dilihat oleh para ahli teori organisasi sebagai sentakan lingkungan. Serangan bioteroris menciptakan ketakutan yang berkelanjutan dan bahaya tidak hanya bagi mereka yang awalnya diserang langsung, tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat dunia secara lebih luas.

Kita terbiasa berpikir tentang masalah kesehatan sebagai peristiwa yang terjadi secara alami, tidak seperti ancaman bioterorisme yang direncanakan terhadap kesejahteraan. Kompleksitas ilmu memiliki kontribusi penting untuk dilakukan ketika kita mencoba memikirkan situasi baru. Ini menunjukkan bahwa dalam rangka mempersiapkan pelayanan kesehatan membutuhkan perhatian khusus yang saling ketergantungan antara satu dengan lainnya baik secara komunikasi maupun hubungan timbal balik yang memungkinkan suatu organisasi untuk merespons dengan cara yang masuk akal dan bermanfaat ketika situasi tak terduga terjadi.

Dalam serangan bioteroris, sebagian besar yang terkena serangan tidak akan menyadari bahwa mereka berisiko. Lebih unik lagi di pelayanan kesehatan pasien  sangat berpotensi membahayakan kesehatan profesional yang akan merawat mereka. Bioterorisme didefinisikan sebagai “penggunaan mikroorganisme atau racun yang berasal dari organisme hidup yang melanggar hukum atau mengancam untuk menghasilkan kematian atau penyakit pada manusia, dan binatang atau tanaman. Tindakan ini dimaksudkan untuk menciptakan ketakutan dan/ atau mengintimidasi pemerintah atau masyarakat dalam mengejar tujuan ekonomi, politik, agama atau ideologis. Senjata biologis menarik bagi teroris karena keheningan serangan dan dapat menyebabkan sejumlah besar korban potensial.

Teror ada ketika seseorang memiliki ketakutan akan hal yang tidak diketahui, Kekhawatiran bahwa orang-orang berusaha keras untuk tidak dapat mengendalikan lingkungan di sekitar mereka. Hilangnya kendali ini menyebabkan ketidakberdayaan, penghindaran, atau fobia. Sejauh mana seseorang memandang teror melibatkan banyak perbedaan daerah, seperti kedekatan dengan peristiwa teroris, frekuensi aksi teroris, dan parahnya tindakan teroris. Hal ini menimbulkan area di mana teror dapat dirasakan. Kejadian terror berimplikasi keresahan sosial yang disebabkan oleh:

  1. Karantina massal, yang menyebabkan hilangnya pendapatan untuk rumah tangga. Karantina massal juga semakin memperkuat penggunaan media dalam masyarakat karena mereka akan banyak waktu menonton  televise dan menggunakan sosial media yang pasti akan meningkatkan efek ketakutan dan panik karena akan ketidakmampuan membedakan informasi hoax dan benar.
  2. Pembatasan penggunaan infrastruktur dan transportasi. Sistem transportasi merupakan target dalam menghentikan pergerakan perdagangan dan laju ekonomi sehingga tidak akan menghasikan uang. Jika shutdown sistem transportasi terjadi, maka pun akan berdampak pada sistem pelayanan kesehatan khususnya pasien akan sulit untuk akses terhadap pelayanan kesehatan karena kurangnya transportasi serta efeknya peralatan dan pengobatan medispun akan semakin langka dan sulit dijangkau karena terbatasnya sistem pengiriman antar negara.
  3. Sistem komunikasi terganggu menyebabkan kepanikan dimana era informasi seperti saat ini orang ingin tahu apa yang sedang terjadi sehingga menimbulkan kepanikan informasi, hal ini merusak sistem perawatan kesehatan dengan banyaknya informasi hoax disebarluaskan sehingga informasi yang tepat tidak tersampaikan dengan baik.
  4. Penggunaan Media, akan memperkuat efek teror pada masyarakat awam. Budaya media dalam masa bioterorisme sering seringkali membuat laporan yang terjadi dengan tergesa-gesa, rumor, atau bergegas menghakimi. Media bagai dua sisi mata uang di satu sisi memberikan informasi yang berguna bagi masyarakat tetapi di sisi lain media meningkatkan rasa takut. Studi media menggambarkan berulang kali bahwa massa secara kolektif dapat terombang-ambing oleh sumber tertentu yang provokatif. Dengan menambahkan multiplier media yang sederhana dapat menambah buruk sistem pelayananan kesehatan yang membawa pada masa krisis dengan karena kepanikan. Penyedia layanan kesehatan harus menyadari keadaan ekstrem informasi yang diterima dari media mungkin salah. Pemerintah sebenarnya dapat menggunakan media untuk membantu menetralisir ancaman langsung yang ditimbulkan.
  5. Lokasi Padat Penduduk. lokasi padat penduduk memungkinkan penyebaran penyakit mudah terhadap agen biologik dan semakin mempercepat replikasi terhadap virus dan bakteri. Penyebaran penyakit pada lingkungan kumur akan berdampak pada meningkatnya potensi terinfeksi agent biologik sehingan risiko korban akan semakin besar. Serangan ini pun juga akan memiliki dampak terhadap pusat pelayanan kesehatan karena korban yang terkena secara massal. sementara kesiapan alat dan pengobatan tidak akan terbatas dan langka jika terlalu banyak populasi yang membutuhkan  saat bersamaan. Ini menyebabkan pasien sakit yang tinggal di daerah populis, yaitu ruang tunggu rumah sakit pun dapat berpotensi menyebarkan penyakit.
  6. Komitmen kesiapsiagaan, Jenis kekerasan ini terjadi dalam skenario seperti yang terlihat oleh teroris menyerang dan menggunakan warga sipil tak berdosa untuk membawa agen biologis. Sistem perawatan kesehatan dalam situasi ini harus bersiap untuk korban yang disebabkan oleh senjata konvensional dan non-konvensional, kita menyadari bahwa situasi  ini akan menyebabkan kepanikan di antara masyarakat yang khawatir.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: