Langkah Kewaspadaan Tenaga Kesehatan Dalam Penanganan Korban Bioterorisme

Masalah yang muncul ketika identitas agen biologis tidak diketahui bahkan dalam beberapa kasus serangan mungkin di curigai belum jelas, apakah serangan benar-benar terjadi atau mugkin tidak jelas apakah korban disebabkan oleh agen biologis, kimia atau bahkan proses penyakit menular yang terjadi secara alami atau paparan toksin. Dalam beberapa kasus kemungkinan bioterorisme muncul meskipun setiap wabah pada akhirnya terbukti memiliki asal yang alami. Ketika agen yang digunakan dalam serangan biologis diketahui maka respons terhadap serangan dapat dipertimbangkan dengan mudah.

Ketika berhadapan dengan hal yang tidak diketahui seringkali kita menggunakan pendekatan algoritmik. Dimana ada penggunaan pendekatan standar seperti yang terdapat pada model ATLS (advanced trauma life support) terutama pada kondisi darurat, seperti pada saat berada dimedan perang. Bahkan banyak dogma, tekhnologi dan strategi yang dapat digunakan  saat menanggapi serangan bioterorisme.

Doktrin medis dalam perang melawan proses penyakit mirip dengan strategi militer melakukan serangan dimedan perang, mereka dituntut cepat dalam mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tidak lengkap dengan sedikit dukungan dan diharapkan segera mengambil sikap yang keputusannya akan memiliki potensi hidup dan mati. Dalam kondisi ini algoritma standar menjadi sangat di butuhkan. Berikut 10 langkah yang dapat dipertimbangkan saat menangani  korban bioterorisme:

  1. Pertahankan kesehatan (bagaimana mengenali penyakit yang berhubungan dengan senjata biologis).

Fakta bahwa agen biologis memiliki masa inkubasi melekat dan menyebabkan penyebaran besar dalam waktu yang singkat. Oleh karena itu pemeliharaan kesehatan menjadi sangat penting. Kematian yang tidak teduga atau penyakit parah yang tidak terduga perlu diperhatikan. Penyakit yang tidak biasa pada daerah tertentu, pada kelompok umur tertentu, musim tertentu, perlu di teliti lebih lanjut untuk mengetahui faktor penyebab, pencegahan dan penanganannya.

  1. Lindungi Diri Sendiri

Tenaga kesehatan harus memprioritaskan melindungi diri sendiri sebelum merawat pasien. Langkah-langkah umum perlindungan diri meliputi tiga kategori yaitu perlindungan fisik, perlindungan kimia  dan perlindungan imunologis.

  1. Lindungi Keselamatan Pasien.

Merawat pasien dengan kondisi ancaman langsung, perhatikan pada titik pemeliharaan kepatenan jalan nafas dan menyediakan alat bantu pernafasan serta sirkulasi yang memadai. Penanganan harus memperhatikan prinsip ABCDE (airway, breathing, circulation, disability, exposure).

  1. Desinfeksi dan Dekontaminasi yang sesuai.

Tekanan psikologis pada masyarakat sangat signifikan dalam melakukan upaya dekontaminasi dan desinfeksi yang menyebabkan bahan disinfektan langka bahkan hilang di pasaran. Tenaga Kesehatan secara efektif dapat melakukan dekontaminasi sendiri terkecuali mereka yang berada pada area serangan yang mengancam sebaiknya menggunakan desinfeksi topical atau cuci tangan dengan sabun merupakan langkah sederhana yang memadai.

  1. Membangun Diagnosis.

Setelah dekontaminasi telah dipertimbangkan, dokter dapat melakukan pengkajian secara komprehensif dan terarah untuk menegakkan diagnosis. Kelengkapan dan akurasi informasi yang digunakan untuk menegakkan akan sangat bervariasi tergantung pada keadaan yang ditemukan. Dalam hal serangan biologis sebagian besar korban akan ditemukan gangguan pernafasan, neuromuskuler atau dermatologis. Korban bioterorisme juga mungkin akan sangat dipengaruhi oleh riwayat kesehatan sebelumnya. Oleh karena itu dalam beberapa kasus “diagnosis sindrom” menjadi standart dengan memperhatikan: AMPLE (Allergic, apakah ada alergi atau riwayat terpapar antropoda, Medicine apakah obat-obatan yang sering dikonsumsi, Past Illness, riwayat penyakit masa lalu dan imunisasi, Last meal: makanan apa yang terakhir dikonsumsi, Environment: bagaimana kondisi lingkungannya). Dengan mengkategorisasi korban berdasarkan informasi sederhana keputusan terapi empiris logis dapat di fasilitasi.

  1. Siapkan Terapi yang Cepat.

Terapi harus segera diberikan pada korban, penundaan lebih dari 24 jam dalam pengobatan penyakit dapat menimbulkan prognosis yang buruk. Ketika agen bioterorisme diketahui terapi yang tepat akan lebih mudah. Jika medis dan tenaga lainnya dalam kondisi darurat dan dihadapkan dengan peringatan bioterorisme dimana sifatnya akan menimbulkan banyak korban yang sifatnya tidak diketahui maka terapi empiris harus dijadikan standar.

  1. Tindakan pengendalian infeksi kelembagaan/rumah sakit/institusi.

Para tenaga kesehatan harus mempraktekkan prosedur pengendalian infeksi yang tepat untuk memastikan bahwa infeksi yang parah tidak menyebar di antara pasien. Sebagian besar agen umumnya dianggap sebagai ancaman senjata biologis. Peringatan berbasis transmisi lebih ketat harus diterapkan kepada pasien dengan penyakit menular tertentu untuk pencegahan berbasis transmisi yaitu: pencegahan tetesan, tindakan pencegahan kontak, dan kewaspadaan terhadap udara/airbone.

  1. Peringatan oleh otoritas yang berwenang.

Segera setelah kasus suatu penyakit di duga disebabkan oleh terorisme pihak berwenang harus waspada agar langkah-langkah strategis dapat dilakukan. Pemberitahuan kepada masyarakat luas harus melalui saluran kementerian kesehatan lokal, nasional dan atau regional. Setelah di siagakan otoritas kesehatan lokal, nasional dan regional harus memahami mekanisme utuk meminta dukungan tambahan dari pejabat kesehatan yang secara yuridis lebih tinggi. Setiap praktisi harus memiliki titik kontak dengan agen-agen tersebut dan harus tersosialisasi dengan mekanisme krisis yang ada. Jika wabah terbukti serangan terorisme maka sebaiknya membentuk Incident Command System yang menyediakan pendekatan standar untuk memerintahkan dan mengendalikan respon darurat kejadian bencana.

  1. Melakukan investigasi epidemologi (dan mengelola kesehatan medis dan psikologis akibat serangan bioterorisme).

Dokter harus siap membantu dalam penyelidikan epidemologis yang akan diperlukan dalam kasus dugaan serangan terorisme.  Selain menerapkan tindakan pencegahan medis khusus terhadap paparan biologis dan memulai penyelidikan epidemologis, dokter harus dipersiapkan untuk mengatasi efek psikologis dari paparan yang diketahui, diduga atau ditakuti. Serangan bioterorisme yang diumumkan atau terancam dapat memprovokasi ketakutan, ketidakpastian, dan kecemasan dalam populasi dan menyebabkan sejumlah besar pasien mencari perawatan medis untuk gejala yang tidak dapat dijelaskan dan menuntut pengobatan untuk paparan yang di khawatirkan. Hal ini dapat memperberat kondisi penanganan wabah saat kondisi psikologis lebih mengancam dari wabah sendiri. Komunikasi risiko harus tepat waktu, akurat, konsisten dan terkordinasi dengan baik. Ketika pandemi mereda dan pengetahuan publik meningkat maka kecemasan publik akan menurun ke tingkat yang realistis. Siklus ketidakpastian, panik dan resolusi terjadi selama peristiwa bioterorisme.

  1. Pertahankan level profesionalitas/kecakapan.

Saat rencana penanganan bioterorisme ada, maka tenaga kesehatan harus dipersiapkan dengan cakap dan professional melalui pelatihan dan simulasi untuk menguji sistem komando dan kontrol, komunikasi, logistik, kordinasi laboratorium, dan kemampuan klinis. Secara khusus rumah sakit diharapkan menyediakan fasilitas pelatihan untuk isolasi dan dekontaminasi radioaktif, biologis dan kimia.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: