COVID-19: Manusia Dan Kemanusiaan

Tidak bisa kita pungkiri virus akan menjadi tantangan kesehatan modern kedepan. Bakteri, virus, kuman adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari, dia menjadi bagian dari kehidupan kita setiap hari. Mencoba berperang dengan yang tak kasat mata adalah tindakan yang sangat melelahkan bahkan akan menyebabkan banyak korban yang tak terhingga yang mungkin pula bukan akibat langsung dari sang virus.

Apa yang Anda pahami tentang corona dan apa yang mungkin terjadi pada Anda?, Apa kekhawatiran anda tentang apa yang akan terjadi kedepan?, Pengorbanan apa yang ingin Anda lakukan?, Bagaimana Anda ingin menghabiskan waktu Anda jika kesehatan Anda memburuk?  Siapa yang anda inginkan mengambil keputusan jika Anda tidak bisa? Pertanyaan ini harusnya bisa kita jawab di tengah wabah covid-19 seperti saat ini.

Duduk menatap barisan tulisan dihadapan laptop sejak subuh beranjak mendekati sang fajar, secangkir teh hangat menemaniku menikmati hasil penelitian pakar kesehatan sembari sesekali meresensi isinya dan membagi ke group telegram yang lagi asyik membahas angka-angka ODP, PDP dan korban meninggal. Ditengah rasa penasaran membaca dan menshare hasilnya, tetiba perasaan gelisah menghampiri tiap ketukan keyboardku, jauh pikiran ini menjelajah ke masa lalu, masa sekarang tapi masih saya tak mampu melihat apa yang terjadi di masa depan. Yah..saya bukan ahli nujum yang handal gumanku dalam hati. Namun pikirku tak mampu ku bendung, banyak Tanya yang masih belum bisa kujawab.

Akan kemana Corona setelah ini? Apakah dia akan pergi atau akan menemani kita untuk melalui hari kedepan lebih baik. Banyak sudah yang menyadari keberadaannya tidak sekedar membawa bencana saja tapi mengajarkan kita tentang banyak hal. Pentingnya menjaga kebersihan, pentingnya menutrisi jasmani dan rohani, pentingnya kita saling membantu sesama dan atas nama kemanusiaan.

Sangat terasa Corona hadir meredam konflik yang memuncah, membuat kita Diam dan mengajak kita untuk merenung dan berkontempelasi. Adakah rasa yang tak biasa hadir selama waktu diam kita??? Sadar atau tidak setiap kita akan memikirkan hal yang berbeda, merasakan pengalaman yang takkan sama, mengambil hikmah dan pelajaran berharga dengan terus berucap syukur.

Tindakan pencegahan, penanganan dan waspada terhadap suatu kejadian adalah sebuah tindakan menyelamatkan. Tetapi menyatakan ketakutan akan kematian karena virus korona adalah perilaku seolah-olah menyerah. Merangkai tulisan ini sejujurnya meluapkan perih di hati, tak terasa air mata ini mengalir sangat deras, tumpah dan berkecamuk dalam hati dan pikiran ini. Sesak di kerongkongan seolah ingin berteriak di mana manusia yang memanusiakan manusia?, dimana kemanusiaan saat orang sakit seperti tahanan, dan mayat tak lagi mampu disaksikan keluarganya.

Menjerit batin saya melihat keluarga yang meronta ingin melihat saudara, sanak keluarga, orang tua mereka untuk terakhir kalinya harus berdiri didepan barisan blockade polisi dan tentara. Jenazah yang harus di bawa oleh mobil ambulance dikawal polisi dengan pengawasan yang ketat dan tak banyak langkah dan doa keluarga mengiringi kepergiannya. Belum lagi masyarakat awam seolah-olah sangat paham bahwa kematian Covid-19 akan menjadi bencana kematian baginya sehingga menolak pemakaman jenazah.

Masihkah kita akan berteriak ini tentang kemanusiaan??? Saya sadar mungkin ini sekedar rasa yang menyesakkan dada hingga harus tertuang dalam tulisan ini. Tapi sadarkah kita semua jika hidup ini bukan hanya tentang kehidupan tapi tentang kesadaran. Kehidupan dan kesadaran adalah dua hal yang sangat mempengaruhi kualitas hidup manusia. Dua hal mengikat tubuh Anda secara keseluruhan dan membuatnya sulit untuk dilihat secara terpisah.

Kesadaran juga mengikat seluruh tubuh kita bersama. Manusia hidup, dan mungkin banyak binatang lain, sadar. Jika Anda membaca kata-kata ini dan Anda sadar bahwa Anda membacanya, maka Anda sadar. Saat Anda mencicipi makanan, Anda sadar. Jika Anda pingsan atau anda koma anda masih hidup, tetapi Anda tidak benar-benar sadar dan sesuatu yang sentral hilang dari hidup Anda.

Kesadaran adalah dasar dari ide untuk hidup. Memang benar bahwa pikiran dapat memengaruhi kesehatan demikian juga tubuhmu. Hanya karena tubuh dan pikiran saling terhubung, bukan berarti pikiran mengendalikan segala sesuatu tentang tubuh. Tubuh juga merupakan pemain kunci. Jadi salah mengatakan bahwa jika Anda sakit, itu hanya karena Anda sedang memikirkan pikiran yang salah. Juga, bukan berarti memiliki pikiran positif akan membuat kita merasa lebih baik, itu tidak berarti  kita dapat melakukannya dengan mudah.

Kita tidak hidup untuk diri kita sendiri, kita membutuhkann orang lain untuk hidup. Dalam bukunya The Village Effect, Susan Pinker melaporkan bukti bahwa orang yang terisolasi membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih dari penyakit karena lebih banyak stres, lebih rentan terkena serangan jantung, dan semakin banyak komplikasi ketika mereka sakit, dan lebih mungkin terkena kanker. Dia memperingatkan bahwa budaya internet mengancam untuk memperburuk kesehatan kita dengan mengisolasi kita dari satu sama lain. Hubungan antara kesehatan individu kita dan hubungan kita dengan orang lain meluas lebih jauh, dengan studi baru menunjukkan bahwa kita menjadi lebih sehat ketika kita melakukan pekerjaan sukarela.

Meskipun saat ini pembatasan dan isolasi menjadi prosedur, tetapi ada aspek manusiawi dan kemanusiaan yang harus kita perhatikan, kita mungkin sangat takut mati hingga kita lupa bahwa bagaimana mungkin kita bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Menjaga jarak, sosial distance, physical distance, daring, online, dll, ini yang menurut saya cepat atau lambat akan merusak relasi kita dengan manusia dan lingkungan, menganggap tekhnologi yang akan membuat kita jauh dari marabahaya sementara disisi lain iapun ikut merusak tatanan manusia dan kemanusiaan di muka bumi. Hidup bukan tentang memperpanjang usia tetapi bagaimana meningkatkan kualitas diri dan kualitas kehidupan kita.

Marilah bijak menyikapi kondisi wabah Covid-19 saat ini. Stay at Home, Study at Home, Work from Home, whatever from home sweet home namun jangan lupakan diri ini sebagai mahluk Tuhan di muka bumi, saling menghargai-peduli dengan sesama-jauhkan stigmatisasi-mari berempati dengan mereka yang ODP-PDP-jaga relasi kita dengan sesama manusia, dengan lingkungan dan tuhan, percayalah kita berbeda dalam hal apapun namun kita satu dalam hal kemanusiaan dan memanusiakan manusia. Corona tidak pernah pergi, kitalah yang akan beradaptasi.

“Rakyat Berdaya, Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat”

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: