Evolusi Virus dan Agama

The further the spiritual evolution of mankind advances, the more certain it seems to me that the path to genuine religiosity does not lie through the fear of life, and the fear of death, and blind faith, but through striving after rational knowledge.

Albert Einstein (1879-1955)

Tulisan tentang Covid-19 ditengah Ramadan turut meramaikan dinding media sosial. Semakin banyak yang menyadari virus corona datang dengan berjuta makna. Di tengah pandemic covid-19 dimana korban berguguran, kematian terus meningkat, penyebaran semakin cepat, meluas dan mematikan. Rakyat semakin panik, stress dan kebingungan, mahluk apa yang tak kasat mata itu yang membuat bumi ini seakan berhenti, diam dan tak berdaya. Saat bencana terjadi apa yang kalian lakukan? berlari, sembunyi, menjauh bahkan tak peduli dengan mahluk lain yang tetap berada di tengah-tengah bencana. Yah…yang kita hitung bukan persoalan nyawa tetapi kehidupan sendiri.

Bulan Ramadan nan suci menyadarkan seluruh manusia bahwa kita butuh merekonstruksi kembali pikiran kita yang semakin jauh dari kesadaran. Sadar atau tidak bumi ini sedang berevolusi, prinsip evolusi bahwa spesies hidup saling berdampingan dengan cara menjaga keseimbangan seharusnya menyadarkan kita yang telah hidup dalam berbagai penyimpangan dan membuat kita semakin timpang jauh dari seimbang.

Virus dan agama memiliki kekuatan yang sama dalam menginfeksi manusia. Tuhan tidak menciptakan Covid-19 yang kuat melainkan manusia bergerak semakin cepat ingin menguasai alam dan isinya dengan tekhnologi dan pengetahuan. Bukan tuhan yang membentuk agama menjadi sangat kuat dan menarik  melainkan kecepatan manusia berevolusi seiring dengan modernisasi. Agama semakin kehilangan sebagian dari kekuatannya dan kesendirian menunjukkan betapa lemahnya diri bergerak dan semakin menyadarkan kita atas kehadiran allah diruang-ruang sepi dan jauh dari keramaian.

Mengapa agama begitu menarik? Keberadaan tuhan sama sekali tidak bisa di buktikan tapi semangat untuk mempercayai keberadaannya tidak bisa menembus batas nalar dan logika. Selama ribuan tahun konteks dan ide agama terus berubah dan berevolusi dari generasi ke generasi mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Sepanjang sejarah yang terekam, ideosfer penuh dengan ribuan ide dewa dan agama yang saling bersaing. Sejarah awal agama, betapa sederhananya seperti manusia dan para dewa memberi jalan kepada para dewa yang lebih kuat (dan lebih sedikit), dan bagaimana itu berubah menjadi monoteisme. Pada setiap langkah, masing-masing ide agama saling bersaing terhadap semua yang lain untuk mendapat perhatian, untuk menceritakan kembali, untuk dapat dipercaya, dan untuk menarik. Setiap ide/ajaran “ingin” menjadi ajaran/ide yang diteruskan ke generasi manusia selanjutnya.

Agama seolah sedang berkompetisi dengan banyak variasi dan versi. Saat ini kita hanya mengenal secara umum agama yang diakui pemerintah yaitu Islam, Kristen, katolik, hindu, budha dan konghucu padahal ada banyak sekali agama dan kepercayaan serta sekte yang mempunyai tujuan ketuhanan yang sama.

Sebagai hasil dari proses evolusi ini, ajaran agama berkembang menjadi parasit perilaku. untuk mendapatkan tempat yang penting di masyarakat. Agama telah berevolusi untuk memberi kita jawaban yang memuaskan terhadap misteri hidup yang paling membingungkan ataupun menakutkan untuk membuat kita berada dalam keteraturan dan kebahagiaan.

Alam telah memperlengkapi kita dengan rasa lapar untuk memastikan bahwa kita memberi makan diri sendiri. Kita diberi rasa sakit dan ketakutan, sehingga kita akan terhindar dari cedera dan bahaya. Ada cemburu sehingga kita menjaga pasangan kita, dengan xenophobia kita waspada terhadap orang asing, dan dengan cinta kita akan saling jaga dan menyayangi. Agama telah berevolusi agar sesuai dengan harapan, ketakutan, kelaparan, nafsu, kecemburuan, xenophobia, dan cinta untuk membajak naluri demi kelangsungan hidupnya sendiri.

Tampaknya apa pun yang berharga juga layak dicuri, dan karenanya layak dipertahankan: Sebuah pohon memiliki kulit pohon yang tebal untuk mencegah serangga; pemilik tanah mendirikan pagar untuk melindungi hartanya; Negara menempatkan tentara di perbatasannya untuk mencegah masuknya musuh dan penjajah; tubuh  memiliki sistem kekebalan  yang kompleks untuk memerangi penyakit, Ini semua adalah contoh yang sama dari sistem kekebalan yang telah berevolusi (baik secara biologis maupun budaya) untuk melindungi hal-hal yang bernilai dalam membantu kita untuk bertahan dan berkembang.

Covid-19 membuat manusia berevolusi baik secara biologis dan budaya, social distance-physical distance-work from home-study at home-stay at home- pray at home, membawa kita untuk jeda dan berhenti dari segala aktifitas keramaian dan eksploitasi bumi. Bumi sedang bekerja dalam diam kita, Bumi sedang beristirahat dari lelahnya menjaga keseimbangan hidup manusia, yah kata kebanyakan orang bumi lagi di restart dan di install setelah bumi ini siap menjaga kembali keseimbangannya, silahkan mendownload kembali segala fitur yang ada di bumi ini tetapi ingatlah jangan lagi mendownload terlalu berlebihan apalagi yang tidak kita butuhkan karena ibarat smartphone anda dia akan menjadi lebih berat,lambat bahkan shutdown.

Beginilah Allah mengajarkan kita akan pentingnya keseimbangan hidup, corona datang sebagai gerbang evolusi kehidupan manusia terlepas dari segala pespektif konspiratif, medis, sosial, ekonomi dan politik.

“Kita bukan manusia yang memiliki pengalaman spiritual tapi kita adalah makhluk spiritual yang memiliki pengalaman menjadi manusia.”

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: