Mengenang Dua Abad Florence Nightingale

Florence Nightingale lahir di Florence Italy pada tanggal 12 Mei 1820. Florence di lahirkan dalam lingkungan keluarga yang kaya dan berpendidikan. Pada Januari 1837, ketika Florence berusia 16 tahun, epidemi flu yang mengerikan melanda Inggris menyebabkan sebagian besar warga di Embley sakit.  Flo dan juru masak merawat pasien mereka dengan teh, senyawa pereda nyeri, dan kompres panas dan dingin.

Florence rajin membaca buku-buku agama dari seluruh dunia, ia memiliki kesadaran yang akan membentuk sisa hidupnya.  Florence memberi tahu orangtuanya bahwa dia merasakan panggilan keagamaan untuk membantu mengurangi penderitaan manusia.  Pada 7 Februari 1837, ia membuat catatan di kalender pribadinya bahwa ia telah mengalami “panggilan dari Tuhan” untuk mengabdikan hidupnya untuk melayani orang lain.  Florence menukar gaun penuh warna dan gaya dari Paris untuk gaun sederhana berwarna hitam, coklat, dan abu-abu.

Pada Tahun 1845 Florence meminta ijin kepada kedua orangtuanya untuk menjadi perawat tetapi ditolak. Dan pada tahun 1846 florence menemukan tempat belajar untuk menjadi perawat di kaiserwerth Germany. 1850 untuk pertama kalinya Florence berkunjung ke kaiserwerth Germany untuk belajar keperawatan dan 1851 kembali untuk melatih keterampilan dasar keperawatan, seperti cara mengamati pasien untuk tanda-tanda penyakit dan luka. Dia belajar organisasi rumah sakit yang baik dan menemukan pentingnya kebersihan ketika merawat orang sakit.

Pada tahun 1853, perang krimea meletus antara Turki dan Rusia.  Rusia Ingin memperluas kerajaannya dan  mengambil alih tanah yang dikuasai Turki.  Perang Krimea menyebabkan banyak korban terluka, sekarat dan meninggal dunia. Florence tergerak untuk menulis surat kepada temannya Elizabeth Herbert untuk memimpin tim perawat membantu di rumah sakit militer Inggris di Scutari. Maret 1854 Florence menerima surat dari sahabatnya Sidney yang meminta Florence untuk memimpin perawat wanita ke Scutari persis apa yang dia harapkan.  Florence melakukan perjalanan ke Scutari dengan kapal uap Vectis dan  pada 21 Oktober 1854, Florence dan 38 perawat tiba di dermaga bersamaan dengan tibanya  400 tentara terluka yang dibawa dari garis depan medan perang.

Di rumah sakit, mayat tentara Rusia menyambut para perawat.  Ribuan orang sakit dan terluka berbaring di barisan kasur yang tak berujung dan saling berdesakan, saluran air yang tersumbat dan kamar mandi yang rusak.  Persediaan kebutuhan seperti makanan dan perban sangat rendah, dan staf yang ada hanya memiliki sedikit pelatihan.  Florence dan para perawat lainnya tinggal diruang yang sempit, langit-langit yang bocor dan dihuni oleh tikus-tikus dengan bau-bauan yang menyengat, serta tidak ada sambutan hangat dari para dokter di sana.

Wanita tidak pernah menjadi bagian dari militer, dan para dokter pria hanya memiliki sedikit pengalaman bekerja dengan wanita dalam hal profesional.  Florence merasakan tidak adanya sinyal bantuan timnya akan diterima sehingga ia merencanakan bagaimana bisa mendapatkan kepercayaan dari ahli bedah militer?  Para perawat menyibukkan diri mencuci pakaian dan memberi makan prajurit yang terluka.  Mereka membuat perban dan menggosok lantai.  Beberapa dokter benar-benar menolak untuk bekerja dengan perawat, dan memarahi sesama anggota staf medis yang melakukannya.

Florence memutuskan bahwa perawat tidak boleh memasuki bangsal medis atau perawatan pasien kecuali mereka diminta secara khusus.  Tidak butuh waktu lama, dalam beberapa hari setelah kedatangan perawat mereka membuat rumah sakit darurat, tentara yang terluka dan sakit dari Pertempuran Balaklava dan  Inkerman berdatangan setiap hari, sekitar 700 pasien sekaligus, para dokter tidak bisa lagi menolak bantuan apa pun terutama dari perawat terlatih.  Florence bersikeras perawatnya di Scutari mengenakan seragam sebagai sarana identifikasi dan profesionalisme.  Mereka mengenakan gaun wol cokelat polos, celemek linen, kap putih, dan ikat pinggang dengan tulisan “Rumah Sakit Scutori bersulam merah”.

Ditengah kondisi yang mengerikan Florence mengatur dan membersihkan rumah sakit sehingga berhasil mengubahnya menjadi rumah sakit yang bersih, seketika itu tim medis yang semuanya lelaki yang awalnya menganggap wanita tak bisa membantunya akhirnya sadar dengan perubahan rumah sakit yang bersih dan menyelamatkan banyak tentara perang. Seorang perawat dengan lampu kecil di tangannya setiap malam melewati lorong-lorong yang panjang memeriksa keadaan tentara perang yang terluka dan sakit. Wartawan perang mengirim laporan ke Inggris tentang kondisi mengerikan dan tentara yang terluka dan sekarat karena sakit, kedinginan dan kelaparan.

Seorang reporter perang untuk The Times, sebuah surat kabar London, memperhatikan pengabdian Florence kepada para prajurit.  Kisah Florence di Medan perang ditulis dalam sebuah artikel di bulan Februari 1855, dia memanggilnya “Lady with the Lamp”  Surat kabar London, The Illustrated London News, memuat artikel serupa akhir bulan itu, bersama dengan ilustrasi Florence membawa lilin ketika dia berjalan berkeliling memeriksa tentara dalam gelap. Deskripsi lentera yang digambarnya adalah lampu Romawi.  Lentera yang benar-benar dibawa oleh Florence adalah lampu Turki yang disebut fanoos, yang dianggap oleh beberapa orang sebagai simbol agama untuk “kesatuan ilahi.”  Florence kembali ke Inggris dan tumbuh menjadi orang yang memiliki popularitas yang baik. Ketenaran Florence tumbuh dengan kisah-kisah yang di tuliskan wartawan perang tentang The Lady With The Lamp, tentara telah menulis surat kepada keluarga tentang kisah kebaikan, kerja keras, dan perubahan besar yang telah dilakukannya.

Florence adalah wanita yang hebat dan kuat. Dia berjuang untuk perbaikan besar dalam rumah sakit dan mengubah keperawatan menjadi profesi yang di hormati. Florence menghabiskan sebagian besar hidupnya demi merawat orang lain dan berjuang untuk apa yang diyakini benar.  Florence menjadikan Keperawatan sebagai profesi yang di akui dunia dan memperluas akses bagi perempuan sebagai generasi yang dapat bekerja meningkatkan perawatan kesehatan secara komprehensif. Dia adalah pelopor dalam menampilkan informasi perawatan kesehatan, menggunakan statistik dalam pengamatannya sehingga memudahkan orang lain untuk memahami dan merupakan orang pertama yang mengeksplorasi area baru dalam bidang keperawatan.

Keperawatan adalah seni yang membutuhkan pengabdian yang tulus.  Florence dikenang dengan patung peringatan, bangunan, sekolah, dan bangsal rumah sakit yang menyandang namanya. Museum Florence Nightingale yang berada di lokasi Nightingale Training School di London, dapat ditemukan lebih dari 2.000 artefak dari hidupnya, termasuk barang-barang pribadi seperti batu tulis yang ia gunakan untuk belajar, selendang dan penghangat kaki timah yang digunakan selama perjalanan kereta dingin serta  Peti obat yang digunakan selama perang di Crimea. Athena kecil tubuh burung hantu yang bersandar di Museum Florence Nightingale melambangkan akan kasih sayang Flo terhadap binatang.

Selama hidupnya, Florence Nightingale menunjukkan keberanian dan kepercayaan diri yang besar, meskipun menghadapi frustrasi dan kekecewaan.  Gagasan dan kerja kerasnya menjadi kisah hidupnya, dan berhasil mengubah kisah hidup perawat di masa depan.  Tindakan Florence menyentuh jutaan orang, bagaimanapun ia tidak pernah menyerah pada tujuan hidupnya bahkan ketika tantangan yang bertentangan dengan keluarganya, perang yang mengerikan, atau kesehatannya sendiri menghalangi jalannya.

“Jalani hidup ketika kamu memilikinya, karena Hidup adalah hadiah yang luar biasa –

tidak ada yang kecil tentang hal itu.”

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: