“New Normal”: Ketulusan, Keikhlasan dan Kepasrahan Perawat

Pagi ini selepas shalat subuh ada kerinduan yang membuat gelisah, rindu untuk menulis segala rasa dan pikir yang mulai memuncah. Gerakan netiijen dalam bermedia sosial mulai memaksaku untuk kembali menulis rasa yang tak tersampaikan.  Infodemic Covid-19 bergerak melampaui pergerakan virus corona dibarengi dengan cyberchondria, internet adiktif dan hiperaktivitas dalam mencari dan melakukan postingan informasi massif di media sosial. Hal ini menyebabkan ketidakpastian, ketakutan, kekerasan verbal, diskriminasi, stigmatisasi bahkan sampai pada kriminalisasi.

Dimasa pandemic ini ada kelompok yang berisiko tinggi dan sangat rentan terpapar mereka adalah perawat, dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Tenaga kesehatan merupakan kelompok yang menerima dampak besar akibat pandemic covid-19 dengan risiko infeksi yang tinggi, kontaminasi, frustasi, isolasi, emosi negatif, kelelahan dan kurangnya kesempatan untuk kontak dengan keluarga dan orang-orang yang mereka cintai.

Masa Pandemic Covid-19 menuju “New Normal” perlahan dan pasti akan kita jalani. Namun pengaruhnya terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan populasi umum, professional kesehatan dan kelompok rentan akan menetap dalam waktu yang lama oleh karena itu di butuhkan keterampilan ketahanan masyarakat yang baik untuk menghadapinya.

Selama pandemic perawat dan tenaga kesehatan lainnya dikatakan garda terdepan kesehatan dengan kepedulian sosial paling ekstrim dengan bekerja 24 jam/hari dan 7 hari/minggu. Tingkat stress kerja perawat tertinggi dengan tekanan kerja yang besar, dengan tingkat risiko bunuh diri 23% lebih tinggi dari rata-rata nasional.

Keprihatinan kita semakin besar jika melihat bagaimana mereka harus bekerja dengan mempertaruhkan kesehatan diri sendiri dan keluarga. Bekerja dengan jumlah yang minimal apalagi tanpa Alat Pelindung Diri (APD) yang memenuhi standar keselamatan. Pengaturan protokol perawatan yang baru dikenal harus diimplementasikan tanpa pelatihan sebelumnya pastinya menguras energi untuk berfikir dan bertindak. Konflik psikologis pastinya akan terjadi dalam diri setiap mereka bagaimana berjuang melawan ego sendiri untuk menjalankan kewajiban meelayani pasien dan berharap mendapatkan haknya untuk dilindungi. Belum lagi ketidaknyamanan dalam menggunakan alat pelindung diri penuh dalam waktu yang lama dibarengi tekanan moral dari masyarakat.

Stigma yang luas dimasyarakat menjadi ancaman, konflik moral dan etika bagi seluruh tenaga kesehatan. Intervensi psikososial saat ini paling dibutuhkan oleh seluruh teman sejawat. Namun terlepas dari semua itu dukungan dan peran serta masyarakat dalam memberi semangat bagi seluruh tenaga kesehatan adalah yang utama. Ucapkanlah terima kasih dan tepukan tangan bagi perawat dan dokter yang telah bekerja mempertaruhkan jiwa dan raga untuk keselamatan ribuan nyawa. Saat ini yang paling utama yang dibutuhkan adalah rasa aman, nyaman, dan dihargai. Stop Kekerasan verbal, stigmatisasi dan kriminalisasi terhadap tenaga kesehatan.

Terlepas dari segala bentuk pemikiran apakah itu konspirasi, politik ataupun kepentingan kelompok dan perseorangan oknum tertentu, lihatlah mereka yang bekerja dengan tulus,ikhlas dan pasrah terhadap situasi yang harus di hadapi. Mari bangkit bersama melewati pandemik ini dengan jiwa-jiwa yang sehat dan saling menyemangati. Obat bukanlah segalanya tetapi yang paling penting adalah bagaimana membangun kesadaran diri, wabah corona ini adalah pertempuran seluruh umat manusia, sehingga tenaga kesehatan tidak perlu disalahkan apalagi merasa bersalah setelah berupaya maksimal untuk membantu keselamatan manusia.

Mari belajar bijak dan sadar menggunakan media sosial. Jika kita ingin menemukan kebenaran maka hancurkan sistem kepercayaan atas dasar “KATANYA”. Bebaskanlah pikiran dan kehendak kita jika ingin menemukan kebenaran. Kebenaran itu satu yaitu kesadaran itu sendiri. Kita butuh kesadaran diri yang membuat kita lebih toleran, tidak menghakimi, lembut dan saling memahami. Sesungguhnya Tuhanmu meliputi segala Manusia. Bagaimana mungkin kita bisa menyakiti orang lain jika sebenarnya apa yang ada dalam diri kita juga ada dalam diri setiap manusia.

Mari bersama menghentikan segala bentuk ativitas media sosial yang hanya akan menimbulkan perasaan tidak nyaman untuk diri sendiri, batasi melakukan postingan dan menyebarkan postingan yang dapat memicu kemarahan dan emosi negative. Mari kita kembali melihat kedalam diri kita, siapa kita dan untuk apa kita berada di dunia ini.

“One minute of anger weakness the immune system for 4-5 hours,

1 minute of laughter can boost your immune system for 24 hours” (Less Brown)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: